Category: Uncategorized

  • Teknologi Penyulingan Modern Tingkatkan Kualitas Minyak Nilam Aceh

    Penerapan teknologi penyulingan modern berbasis low-pressure steam distillation berhasil meningkatkan kualitas dan rendemen minyak nilam petani di Aceh. Teknologi ini dikembangkan oleh Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala.

    Dibandingkan dengan metode penyulingan tradisional, teknologi baru ini mampu meningkatkan rendemen minyak hingga 20% dan menjaga kualitas senyawa aktif lebih baik. Suhu penyulingan yang lebih rendah mencegah degradasi komponen volatile yang berharga.

    ARC juga mengembangkan sistem monitoring berbasis IoT untuk memantau parameter penyulingan secara real-time, memastikan konsistensi kualitas produk.

  • ARC USK Jalin Kerjasama Riset dengan Universitas Prancis

    Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universite de Montpellier, Prancis, dalam bidang riset dan pengembangan minyak atsiri.

    Kerjasama ini mencakup pertukaran peneliti, publikasi bersama, dan pengembangan teknologi penyulingan minyak atsiri yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Universite de Montpellier dikenal sebagai salah satu pusat riset aroma dan parfum terkemuka di Eropa.

    Program pertukaran peneliti pertama dijadwalkan dimulai pada September 2026, dengan fokus pada karakterisasi senyawa aroma dan standardisasi mutu minyak nilam.

  • Industri Minyak Atsiri Indonesia Tembus Pasar Eropa

    Industri minyak atsiri Indonesia mencatatkan pencapaian membanggakan dengan ekspor mencapai USD 260 juta pada tahun 2025, meningkat 15% dari tahun sebelumnya. Eropa menjadi pasar utama ekspor minyak atsiri Indonesia, terutama untuk produk nilam, cengkeh, dan pala.

    Indonesia merupakan salah satu produsen minyak atsiri terbesar di dunia, dengan sentra produksi tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Jawa Barat, dan Sulawesi. Minyak atsiri Indonesia digunakan dalam berbagai industri, mulai dari parfum, kosmetik, farmasi, hingga makanan dan minuman.

    ARC (Atsiri Research Center) Universitas Syiah Kuala berperan penting dalam mendukung industri ini melalui riset dan pengembangan, pelatihan petani, serta standardisasi mutu produk minyak atsiri.

  • Peneliti USK Kembangkan Varietas Unggul Nilam Tahan Penyakit

    Tim peneliti dari Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala berhasil mengembangkan varietas unggul nilam yang tahan terhadap penyakit layu bakteri, salah satu kendala utama dalam budidaya nilam di Indonesia.

    Varietas baru yang diberi nama Nilam ARC-1 ini memiliki kandungan minyak atsiri hingga 3,5% dan kadar patchouli alcohol (PA) di atas 32%, melebihi standar internasional yang mensyaratkan minimal 30%.

    Varietas Nilam ARC-1 juga menunjukkan ketahanan terhadap cekaman kekeringan, sehingga cocok dikembangkan di lahan-lahan marginal di Aceh. Saat ini, ARC sedang memproses pendaftaran varietas ke Kementerian Pertanian untuk pelepasan resmi.

  • Aceh Tingkatkan Produksi Minyak Nilam untuk Pasar Ekspor Global

    Pemerintah Aceh terus mendorong peningkatan produksi minyak nilam (patchouli oil) sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Minyak nilam Aceh dikenal memiliki kualitas terbaik di dunia dengan kandungan patchouli alcohol (PA) yang tinggi.

    Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Aceh menyumbang lebih dari 70% produksi minyak nilam nasional. Nilam Aceh telah diekspor ke berbagai negara seperti Prancis, Amerika Serikat, dan Singapura untuk digunakan dalam industri parfum dan kosmetik kelas premium.

    Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI-PT) Nilam Aceh di Universitas Syiah Kuala telah menghasilkan berbagai inovasi, termasuk bibit unggul, teknik penyulingan modern, dan pengembangan produk hilir berbasis nilam.